Disalin dari http://kisahhujanpagi.blogspot.com Salam hangat, D. Meimosaki ========================================= Sambil memandang layar komputer jinjingku dan ditemani kumpulan koleksi lagu daerah Papua, pikiranku melayang ke sebuah ajakan brosur untuk memakai pita putih tanggal 25 November esok sebagai tanda simpati kepada para perempuan yang menjadi korban kekerasan baik dalam rumah tangga maupun di mana saja. Kembali lagi pikiranku melayang pada perempuan – perempuan di tempatku, di sebuah tempat bernama Tanah Papua. Para perempuan berkulit gelap dan berambut keriting. Para perempuan yang membuatku bertanya, “Kenapa dong masih saja pu nasib begitu – begitu saja? Kenapa sampe sebelum sa tinggalkan sapu kota tepat setahun lalu, sa masih sering lihat dong dapa pukul, dapa sepak. Masih dapat b’la dalam rumah tangga dll?”. Apakah mereka kurang berharga? Pertanyaan – pertanyaan ini masih sering menggantung di benakku. Tulisan kali ini lebih kepada perempuan tanah dan bagaimana mengonsep diri. Tulisan ini tidak ingin mendiskreditkan siapapun. Tak juga mau jadi hakim. Aku hanya ingin berbagi tentang apa yang kulihat, apa yang kurasakan. Aku bukan siapa – siapa. Aku ingin berbagi tentang apa yang kupercaya. Yang pasti bagi yang membaca tulisan ini, aku hanya ingin bilang, “Ko tetap pu hak untuk kritik tulisan ini, ko pu hak untuk tetap tolak hegemoni untuk percaya kalo ini tulisan yang paling mantap de el el.” Satu yang pasti, sudah saatnya berbicara tentang perempuan, karena ‘perem komin, ko berharga!’ # Rambut “Aih salon di sana bole mantap! Neh nan ko pu rambut akan jatuh betul! Ko bilang dong bonding ka smoothing akan bole”. “Neh obat ini bole, ko pake akan nan ko pu rambut akan lurus ka ini.” “Aeh neh, ko pu rambut tuh asar sampe bikin tampang acak skali. Ko pi kasi lurus akan ka bagaimana.” Pernah tidak kita dihadapkan pada ujaran – ujaran di atas? Atau pernah tidak kita sendiri mengucapkan kata – kata itu pada orang – orang di sekitar kita, entah pada saudari, anak, keponakan atau entah siapa. Aku percaya apa yang kita ujarkan bahkan pada hal sekecil ini sebenarnye merefleksikan bagaimana ideologi kita tentang konsep diri kita sendiri, bagaimana merefleksikan pemahaman dan apa yang kita percaya atas sesuatu. Aku tak menyalahkan para perempuan tanah dalam mengonsep diri mereka khususnya tentang rambut, karena aku pernah juga beberapa kali meluruskan rambutku yang keriting. Aku pada dasarnya memang sewaktu masa SMA – kuliah S1 suka sekali mengutak – atik rambutku, jadi ya tak juga karena alasan – alasan yang dikemukakan di atas, tapi lebih pada tahap eksplorasi. Semua gaya rambut pernah kucoba begitu juga mewarnai rambut. Rambutku selalu berkisar dari dicepakin kayak cowok, kemudian dibiarkan kribo dan besar banget, digimbal, disambung benang, lalu dilurusin, dan kalau mulai bosan lagi apalagi kalau aku makin rajin berenang dan bermain di pantai, maka rambutku kembali lagi pada siklus yang sama; dicepakin. Tetapi seiring dengan waktu, aku rindu rambutku yang keriting dan halus. Apalagi aku suka saat rambutku terasa ringan dan mengembang. Saat SMA dan kuliah S1 dulu, aku kadang merasa iri dengan rambut adik perempuanku yang lurus dan persis seperti rambut bapakku yang non- Papua. Tetapi setelah beberapa tahun ini, aku malah merasa bahwa aku sudah bisa menerima rambut dan diriku bahwa pilihan yang dibuat Tuhan dalam struktur dan jenis rambutku adalah yang terbaik. Yang harus kulakukan adalah mengubah cara pandangku tentang rambutku. Apalagi sejak berada di Australia, aku merasa benar – benar jatuh cinta pada rambut keritingku. Beberapa hari ini aku sempat memandangi kumpulan fotoku selama hampir setahun dan menyadari bahwa rambut keritingku begitu indah, bahkan menjadi sebuah pembeda yang cukup signifikan bila berkumpul bersama teman – teman. Aku juga mulai rajin membaca tentang bagaimana memperlakukan rambut keritingku dan ternyata dengan mengaplikasikan produk perawatan rambut yang tepat, rambut keritingku masih tetap bisa diatur rapi dalam suasana tertentu yang mengharuskan berambut rapi. Tapi di saat berbeda, rambut keritingku bisa juga menjadi sebuah fashion statement yang jelas lengkap dengan aksesorisnya. Aku pikir keriting ataupun tidak bukanlah hal yang terpenting dalam hubungannya dengan rasa percaya diri. Bagiku yang terpenting adalah apakah rambut kita sehat, tidak berkutu, tidak berketombe, tidak rusak, itu yang penting. Beberapa bulan lalu, aku sempat terkesima dengan pernyataan beberapa teman yang merasa tidak PD dengan rambut keriting mereka dan segera mencari upaya meluruskannya. Bagiku secara pribadi, jangan menjadikan rambut keriting kita sebagai alasan untuk tidak PD. Karena PD alias self confident itu dari dalam diri kita. Bagaimana kita memandang diri kita sendiri. Percaya diri itu bukan bakat alami tapi bisa dikembangkan dan dipelajari. Itu bukan harga mati bahwa hanya orang tertentu yang memilikinya. PD apalagi yang berkenaan dengan rambut adalah milik dan hak kita semua. Aku pernah mendengar bahwa seorang teman bilang padaku, “Day, ko tahu, sa tuh bukannya tra suka rambut keriting, tapi kalo sa rambut akan de tumbuh dan keriting – keriting begini, sa rasa macam kapala brat.”. Ada juga seorang temanku yang bilang, “Day, aeh yang penting kan sa pu hati masih keriting toooo. Biar rambut bonding, yang penting hati keriting mo.” Dalam hal ini aku bukan hakim yang berhak menghakimi pendapat teman – temanku. Yang aku tahu, apapun alasan yang kita kemukan guna memberikan alasan mengapa kita tak mau berambut keriting adalah kembali pada bagaimana kita mengonsep diri kita sendiri. Bagaimana kita membentuk zona nyaman dan rasa aman dalam hidup kita. Pertanyaan yang ingin sekali kutanyakan pada para perempuan tanah yang meluruskan rambut dan selalu meluruskan rambut mereka kala folikel – folikel itu menumbuhkan rambut yang menggelung dapat kusimpulkan di bawah ini. “Apa deng kasi lurus kam pu rambut, kam merasa lebih aman dan lebih diterima dalam kam pu lingkungan pergaulan?”, “Apakah deng kasi lurus rambut, kam pu paitua ka cinta dong akan lebih sayang kam?” Kalau jawabannya masih berkisar pada kata “Ya”. Maka aku hanya bisa bilang, “SELAMAT! Anda telah menerima hegemoni konsep jati diri orang lain di dalam diri anda” ‘Perem komen, ini kam pu hidup’. Hidup cuma 1 kali. Kalau perubahan sekecil ini masih tak bisa kita lakukan, bagaimana kita bisa lebih menghargai diri sendiri dalam hal lain? Kita tak perlu menjadi bagian dari homogenitas yang membunuh siapa diri kita sebenarnya. Cenderawasih tetap saja cantik walau ia tak berwarna hijau seperti Merak ataupun berwarna putih bersih seperti Kakatua. Karena ia Cenderawasih! # Warna kulit Sewaktu remaja bahkan hingga saat kuliah, aku sering sekali dibandingkan dengan adik perempuanku yang berkulit terang seperti bapakku yang non- Papua, apalagi saat para teman – temanku berkunjung ke rumah ataupun aku dan adik perempuanku jalan sore, ditambah lagi tampilan fisik kami yang berbeda jauh. Banyak komentar yang kudapatkan berkisar pada warna kulitku yang gelap. Tapi sejak kecil aku tak pernah peduli tentang warna kulitku. Saat kuliah pun saat teman – teman yang lain sibuk memakai payung ke kampus, aku palingan hanya ber-topi. Bagiku selama kulitku masih sehat dan tak ada kanker kulit, I’ll be fine! Aku kerap mendengar orang – orang yang kutemui sewaktu di kotaku berbicara tentang warna kulit. Saat beberapa dari mereka sibuk berbicara tentang persamaan hak dan ketidakadilan sosial bagi rakyat Papua, di sela – sela pembicaraan mereka malah terselip satu – dua ujaran yang membuatku sedikit mengernyitkan alis saat membahas ingin mendapatkan pasangan hidup yang tak berkulit gelap, dengan alasan ‘ingin memperbaiki keturunan.’. Perkataan ini pun yang sering dilontarkan para saudara sepupu ataupun kerabat jauh plus beberapa teman saat bertanya apa aku telah mendapat kekasih beras Kaukasia (baca: bule), demi ‘perbaikan keturunan’. Bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini adalah sebuah refleksi bagaimana kita memandang diri kita sendiri, bagaimana menghargai diri kita sendiri. Aku bukan hakim dalam hal ini, tapi bagiku, pertanyaan dan ujaran seperti ini seakan menyatakan bahwa kita tak bangga dengan diri kita sendiri! Jujur, aku benci pada iklan produk pemutih wajah di TV Indonesia. Mulai dari produk A yang bisa memutihkan dalam waktu 7 hari hingga produk – produk B yang bisa diminum untuk menerangkan warna kulit dari dalam. Jujur, aku ingin bilang pada pembuat produk – produk itu, “Tra baca artikel kesehatan ka? Su tahu orang pu ras Melanesia begitu, apalagi pigmen melanin tinggi dan matahari juga pica tiap hari begitu, biar mo pake sampe 1 drem juga, kulit tra akan putih ya. Kecuali kam klonning tong pu pigmen nih hilang ka bagaimana ka bole”. Tapi aku miris karena banyak yang terkena rayuan produk – produk ini. Bagiku dan juga karena keseringan membaca artikel kesehatan, yang terpenting bukanlah warna kulit. Tapi apakah kulit kita sehat atau tidak. Yang terpenting, kulit kita tak berjamur yang bisa memicu ‘kaskado’ dan saudara – saudaranya, Tak ada luka iris pun luka terbuka yang dapat mengundang masuknya bibit penyakit dalam jaringan kulit dan darah, tak ada indikasi kanker kulit., tak ada ‘wepambok dan infeksi kulit lainnya’. Itu yang penting, dibanding harus sibuk berburu produk pemutih kulit, mem-bleaching kulit di salon dll. Satu yang pasti, jangan pernah sampai menjadi seperti Tina Turner, seorang penyanyi kulit hitam di Amerika yang pernah berkata bahwa ia seorang wanita kulit putih yang terperangkap dalam tubuh berkulit hitam ataupun seperti almarhum Michael Jackson yang melakukan operasi plastik berulang kali demi mengganti warna kulit. Kau tahu, kau berharga. Ibarat Mutiara hitam yang sangat mahal dan langka, demikianlah dirimu. # Tentang Gaya Aku bukan fashionista (pecinta mode). Walau kuakui aku sejak kecil hingga sekarang sangat menyukai hobiku membuat skesta busana, lebih pada perancangan, tapi tak pernah mau aku menjadi korban tren mode. Bagiku, aku tahu apa yang kuinginkan, aku tahu bagaimana busana yang tepat bagi bentuk tubuhku dan aku tahu apa yang ingin kusampaikan pada orang lain lewat busana yang kupakai. Aku tak akan menghakimi para pecinta mode karena itu adalah hak mereka. Tapi satu yang pasti, jangan pernah mau dikendalikan oleh tren pasar. Jangan pernah mau menghambakan diri pada perkembangan fashion dan jangan pernah mau membeo apa yang digariskan orang lain. Buatlah gayamu. Kenali bentuk tubuhmu! Ketahuilah apa yang kau inginkan dalam berbusana. Jangan pernah peduli pada kata orang lain yang bilang bahwa ‘neh ko gaya kampung sampe. Neh ko pake gaya ini bole de el el.” Aku hanya ingin bilang, “Ini ko pu hidup. Ko tidak harus ikut kata orang lain supaya dong bisa hargai ko, ko tra harus berubah demi dong pu penerimaan.” Hidup cuma satu kali, orang Australia bilang, “Live your life to its fullest”. Secara literal sih artinya “ko manfaatkan ko pu hidup betul – betul. Ko bikin!” Aku rindu suatu hari nanti, di tanah Papua, saat wisuda di Universitasku dulu, kita tak harus berkebaya dan sanggulan dan sibuk berdandan yang aneh – aneh (aku bersyukur tak memakai sanggul saat wisuda). Aku rindu suatu saat nanti para ibu pejabat ataupun petinggi pemerintah lainnya bisa bangga dengan rambut keriting mereka. Aku rindu suatu saat nanti, para perempuan tanah ke salon hanya untuk merawat rambut dan kulit mereka tetapi tak mengubah esensinya. Cenderawasih akan tetap cantik walau ia hanya tinggal di pepohonan. Mutiara hitam akan tetap ada dan kemilau di dasar lautan. Emas yang tersimpan di perut bumi Grassberg akan tetap cantik walau awalnya hanya bercampur tanah. Manusialah yang memberi nilai pada sesuatu. Sudahkah anda memberi ‘nilai’ pada diri anda? (Canberra, 1 November 2009)
 |
Komentar
Tong memang beda... tapi tong manis-manis.... :-) :-)
(cerita pengalaman.. boleh kan?)Sa kan kapala ganggu sa pu teman-teman2.... kalau dong su ganas... dong kapala bicara saya... dasar Papua, kriting...
kam su tahu mulut koment toh... sa bale bicara dorang... trus kalau sa papua,ko mw apa????? (andalan, perem diam langsung.... )
Kadang-kadang dong bilang, Tien,kasih lurus saja... biar bisa diurai....
Kam tahu sa bilang dorang: bah... Indonesia kan dari sabang sampai merauke trus kita kan terkenal dengan Bhineka Tunggal Ika, Nah...Trus dalam tong pu angkatan yang keriting Perempuan cuma sa saja.... Trus nanti kalau sa kasih luruh... trada lagi dong yang keriting dalam tong pu ankatan trus nanti tong semua trada yang beda-beda lagi dong.... (ale... dong langsung diam, tra bicara banyak lagi....)
Sa pu rambut dan kulit hitam nie.... sa pu semangat apa.... karena banyak yang udik dan mati pegang sa pu rambut.... hahahaha.... 8) :D :D
sizz pu keluarga sadiz juga ee...
itulah...malahan z juga mmg tra pernah ada niat untuk ksi lurus kah..kasi warna kah..abiz macam pertama tuh..sa takut tll byk chemical malah bkin penyakit..plus dalam bapa pu keluarga tuh semua TANAH KARITING BETUL PUNYA jadi..kalo mama pu keluarga boleh..masih ada yg modifikasi sedikit...
Apalagi nene..sueiii doro..pake celana botol k itu saja..dapat ceramah sampee..ehehhhe..
tapi semua itu baik..demi melestarikan budaya dll..
sa sangat setuju juga soal yg penting tuh kulit dan rambut sehat saja..itu cukup..untuk apa mo jadi sama mcam orang lain..just be urself toh...
epen k...setiap org tuh CANTIK..hanya saja berbeda..kita semua unik..anak muda kah ibu2 juga su terpengaruh media yang kasi tunjuk kalo cantik tuh harus kulit putih..harus rambut lurus lah..jadi sa juga harap jangan sampe tong.. terpengaruh dengan media dll...
aplg lata dong kalo sayang tong tuh dong ttp harus terima tong apa adanya.. :D
justru kamu2 ini semua lahir dari wanita keriting2 itu sudah mowh..hehehe...
niyh jadi macam curhat kah ee..
mantap sizz...sa senang skali..
sizz teruskan karyanya ee...sa nanikan sizz pu tulisan2 yang lain..
JAH BLESS U ALWAYS :-)
Sekarang sa baru mengerti pace pu esensi nasehat.
Pace pu pandangan ini juga sama deng sa mama waktu sa sibuk mo utak - atik sa rambut, mace ko kontan bilang, "Ko tra bisa PD deng apa yang ada dalam ko pu diri ka, tra usah ikut2 orang lain pu gaya. Bikin ko pu gaya sendiri."
Ini belum ditambah deng sapu sodara2 laki2 pu mulut2 yang cerewet dulu kalo sa warnai dan lurusin dulu .... macam ko mo menyimpan pakaian dan kabur dari rumah langsung oooo
Tapi sekarang sa bersyukur karena ternyata memang tong pu rambut keriting tuh unik, yang penting tong rawat akan saja baik2, itu su cukup (P.S. Sa pu teman2 dari JKT saja ada mati bikin rambut kayak sapu, apalagi pas dulu datang kan sa kapala maroro kecil - kecil dan pi kampus)
Kalo kulit tuh, ko mo tahu, kulit melanesia itu kalo dibilang sih, apalagi melanesia dari west papua tuh cenderung "Coklat sexy", itu pendapat beberapa orang di sini eeee.
Jadi sayang saja kalo tong mengubah esensinya hehehe
sa terharu skali baca sizz pu tulisan ini oo..
cuma utk sharing saja..sa neh juga pu pemikiran sama kyk sister..
malahan dalam sa pu keluarga tuh..sa pu bapa sampe bilang..berani ada yg bonding..tetap dapat coret dari kartu keluarga..ehehehe :D sadis ee...
sa juga heran dgn perkembangan zaman yg bikin tong pu peta2 lain tra PD deng dong pu kulit dan rambut. Sejak sa ke Aussie juga niyh baru sa semakin cinta sa pu diri..kulit dan rambut ini..malahan bule2 spanggal niyh dong udik tong pu kulit dan rambut..baru masa tong lain mo jadi dorang...
hmmm...sizz pu tulisan semoga bisa jadi berkat buat semua PETA yang baca...
Cenderawasih jang kam punah kah..kam andalan baru.. ;-)
makasih buat artikelnya...