|
Oleh rudolfo
|
 Busana Daerah Terbaik, Oh My God !! Gelar yg aneh !!! (Catatan dari Pemilihan Putri Pariwisata Indonesia 2009)
Rasa hormat, kagum dan bangga saya buat Putri Stella Jeannete Maay dari Papua Barat.
Dadaku berdebar debar, menikmati setiap jengkal kecantikannya, walau hanya lewat layar kaca.. ketika sang dara, Cendrawasih mengepakkan sayapnya malam itu.. diiringi tepuk tangan yang semakin menikam jantungku
ah.. tiba tiba.. pikiranku melayang layang jauh keangkasa hingga menghilang di awan yang gelap.
Putri Pariwisata Indonesia Persahabatan 2009 diberikan kepada Stella Jeannete Maay dari Papua Barat. Stella pun sebelumnya terpilih sebagai berbusana daerah terbaik.
Waktu sa nonton di televisi, pas pembawa acara de bilang yang menyerahkan hadiah buat Putri Berbusana Daerah Terbaik buat stella adalah Gubernur Sumbar, ternyata yang maju sala satu walikota di jakarta, ckckck sa tertawa terpingkal pingkal sekaligus marah dan malu.
apa ini sebuah penghinaan ?
ok selanjutnya mengenai gelar Busana Daerah terbaik, menurut saya ini adalah sebuah gelar yg sangat aneh dan mengada ada, bukankah semua busana daerah memiliki ciri khas masing masing ? apakah jika ada busana daerah terbaik, berarti busana daerah lain kurang baik ?
Gelar yang aneh, sa kasian pada Panitia yang terlalu asal asalan, berusaha menciptakan jenis jenis gelar yang tra masuk akal, sekedar untuk menutupi rencana dan skema besarnya bahwa Papua tra boleh Juara. dan sa kasian Pada para Putri yang mau saja diberi gelar gelar tra masuk akal.
ohh..
Menyedihkan menjadi sebuah pelengkap belaka, namun sangat mengenaskan jika kita tra pernah menyadarinya.
 |
Komentar
Bingung... di satu sisi bangga di sisi yang lain sedih. Sedih seolah-olah karena mereka diluar sana menghargai kita karena kita "dirasa perlu" untuk mendapat "tempat". Bukan karena kita memang punya sudah seharusnya dihargai dengan apa yang kita buat dan lakukan.
I love papua
Padahal setahu saya, sampe dunia ini, belum ada penelitian intensif tentang korelasi lomba2 ginian demi peningkatan pariwisata Indonesia. Statistiknya saja masih tak jelas. Begitu juga dengan situs promo wisata apalagi yang tingkat daerah. Belum ada dampak signifikan dari lomba – lomba begini.
Mungkin sudah saatnya tong di Papua apalagi di dinas Pariwisata tuh bikin barang yang lebih kreatif ka dibanding mempromosikan wisata lewat lomba macam begini yang cuma buang2 biaya plus juga trada perubahan signifikan bagi pariwisata di tanah ini. Daripada bikin barang ini, lebih baik galakkan usaha2 rumahan yang bikin souvenir khas kabupaten, tentu saja kerjasama deng perdagangan ka perindustrian dong, jadi kalo tong ke sebuah kabupaten di tanah Papua. Di objek wisata itu ada souvenir khas tempat itu dll. Mungkin lebih baik mendanai sesuatu yang bisa berkesinambunga n seperti ini dibanding bikin lomba tiap tahun untuk sesuatu yang tak jelas.
Selain itu, apa memang selama ini lombanya sudah adil? Standar apa yang dipakai dalam menentukan yang terbaik dll? Selama ini setahu saya inti dari segala ini cuma ‘beauty pageant’ yang dipoles saja supaya tampak “intelek, anggun’ dan ‘berisi’”. Sudah saatnya tong sebagai generasi muda Papua bisa melawan hegemoni ‘industrial-minded’ yang ditawarkan. Toh tak ada perubahan berarti dalam perkembangan pariwisata ini.
Selain itu, menjawab komentar bro Rudolfo, kalau tentang frasa “busana daerah terbaik” mmmh kalo dipikir sih sudah tepat CUMA sense-nya saja yang meisyaratkan sebuah perbandingan antara ‘inferiotas’ dan ‘superioritas’, ada yang ‘baik’ dan ada yang ‘jelek’ karena penggunaan prefiks ‘ter-‘ yang notabene artinya PALING, jadi kalo dalam frasa ini jadinya ya tetap, “yang paling bagus’ berarti ada yang jelek dan tra laku dong ^_^
Sa percaya setiap kebudayaan itu unik, begitu juga produk budayanya. Mungkin panitia lebih bijak menciptakan frasa yang lebih tepat dan bukannya 'busana daerah terbaik'. Lagipula setahu saya yang ditampilkan adalan busana yang dimodifikasi dan umumnya sudah on the way ke tipe busana ‘haute de couture’ dan bukannya tipe ‘prêt-a-porter’ (cek di glossary istilah fashion ya). Kenapa tak dilabel saja busana etnik kreasi atau etnik kontemporer terbaik, jadi yang dinilai adalah keindahan kreasi busana yang dimodernisasi dan disesuaikan dengan sikon. Bukan makna busana daerah yang lebih merujuk pada etnik, jadi kalo yang menang misalnya 'kebaya Jawa' berarti bagaimana dong baju bodo dari daerah lain, atau songket, atau 'sali' dan baju daerah lainnya.
Bicara2 tentang dinas Pariwisata ka ini dan dong pu istilah2 nih yang tahun 2008 kemarin tuh banyak orang bahasa Inggris dan linguistics yang ketawa bokar dan sampe2 dikomplain beberapa guru besar di universitas ternama di pulau Jawa karena iklan promosi wisata Indonesia 'visit indonesia 2008' yang isinya tuh lucu skali karena dong pu kata2 untuk hari kebangkitan nasional ka itu hehehe. Mangkali ini terjadi dalam pelabelan sebuah gelar kapa hehehe. Tapi satu yang pasti, sa sering ketawa mengartikan label dalam ‘ajang putri – putrian’ ini, mulai dari putri persahabatan? (apa karena de paling ramah dan ‘buka gigi’; bukannya semua peserta dalam lomba ginian semuanya biasanya menyamar sungguh mati hehehe. Trust me, sa pernah ikut lomba ginian karena “terjebak” jadi tahu sedikit lah ^_^) plus gelar – gelar yang lain ^_^
Sory kalo kedengarannya yang cukup kritis dengan lomba ginian cuma ya itu, balik lagi apa suda ada penelitian berarti dalam korelasi antara lomba ginian dengan promosi wisata kita? Jujur sa meragukan itu
Tong tra perlu ikut arus melakukan sesuatu yang ujung2nya kita hanya dinilai dari ‘warna kulit dan jenis rambut’ di sebuah tempat bernama Indonesia